Movie Review : The Green Hornet

2 Feb 2011

P:osternya keren, ya?

Posternya keren, ya?

Sebagai seorang movie-goer (penikmat film. bukan movie-gazer atau penggila film), saya punya beberapa sutradara favorit. Jujur aja, saya menikmati lebaynya karya-karya Michael Bay yang boros special effect dan ledakan (even when he direct commercial and music video! Ingat klip “I Wanna Do Anything for Love-nya Meatloaf? Yes, It was Bay!), saya juga fans berat film-filmnya om Tim Burton yang “dark” (dan kecewa berat setelah nonton Alice in Wonderland! hmmppfff!! ) dan kagum banget sama pola pikir non-linearnya Christopher Nolan setelah nonton Memento dan Inception (His “The Dark Knight” is the best, though). Masih panjang daftar sutradara favorit saya, dan isinya makin bertambah setelah saya nonton “Eternal Sunshine of the Spotless Mind”, satu-satunya film tentang cinta yang sukses bikin saya nangis (saya pernah bahas ini di postingan berjudul “Erase and Rewind” di bulan Agustus 2008). Sutradara “Eternal…”, Michel Gondry menggambarkan inti cerita film itu dengan sangat proporsional. Nggak lebay dan nggak ada kurangnya. Pas. Hal yang juga saya temukan di karya komedinya, Be Kind Rewind dan iklan plus video klip yang dibuatnya. Jadilah saya mengagumi Michel Gondry karena kemampuannya meramu sebuah film secara pas sebagai trademark-nya. Makanya saya sangat menunggu-nunggu The Green Hornet (TGH) karena penasaran banget kayak apa kalo Michel Gondry bikin film action.

Yes, TGH is an action movie about Britt Reid (Seth Rogen), a bad boy turns superhero who is known as Green Hornet. Dalam aksinya, Green Hornet dibantu oleh Kato (Jay Chou), orang yang bekerja untuk almarhum ayah Britt. Kebalikan dari Britt, Kato ini kalem tapi cerdas dan jago bela diri. Keduanya sepakat untuk memerangi kejahatan di Los Angeles yang dipimpin oleh Benjamin Chudnofsky (Christopher Waltz). Dan sebagai pewaris tunggal bisnis media besar milik almarhum ayahnya, Britt juga punya sekretaris pintar dan cantik, Lenora Case (Cameron Diaz). Aksi-aksi Green Hornet dan Kato lah yang jadi jualan utama film ini. Memang nggak semeriah aksi yang disuguhkan Michael Bay, tapi lumayan juga untuk debut Gondry menyutradarai film action. Satu-satunya kekurangan film ini mungkin adalah skrip yang ditulis sendiri oleh Seth Rogen dibantu Evan Goldberg. Mungkin karena ini kerjasama Rogen-Goldberg yang kelima setelah “Jay & Seth VS The Apocalypse”, “Knocked Up”, “Superbad” dan “Pineapple Express”, maka dialognya jadi nggak jauh beda dengan film-film itu. Sangat khas Rogen. Bahkan beberapa scene dan klimaks film ini sedikit mengingatkan saya dengan Pineapple Express. Untung James Franco yang tampil di scene awal nggak keterusan tampil sampai film habis. Kalo iya, bisa-bisa ini film jadi Pineapple Express 2! Untung banget juga Gondry dan Jay Chou bisa mengimbangi skrip Rogen yang “biasa” sehingga TGH nggak jatoh jadi tontonan standar.

Intinya, nggak bakal nyesel juga kalo nonton di bioskop karena film ini cukup menghibur. Sepanjang film, tawa saya nyaris nggak berhenti. Udah ah, saya masih punya banyak artikel untuk dikerjain. Maaf banget ya kalau review film-nya nggak detail. Ngerjainnya agak terburu-buru sih… Heheeheee…


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post