Legend of the Guardians : The Owls of Ga’ Hoole

22 Sep 2010

legend_of_guardians_poster_1-535x788

Sebelum datang memenuhi undangan press screening film epik animasi 3D ini, saya sudah menuliskan sekilas review-nya di majalah tempat saya bekerja. Dari info-info yang saya baca dan trailer yang saya tonton, akhirnya saya memutuskan untuk menjadikan film ini sebagai Movie of the Month yang artinya Highly Recommended. Nggak hanya karena film ini dibuat berdasarkan buku serial fantasi best seller berjudul sama karangan Kathryn Lasky, tapi lebih karena nama Zack Snyder yang jadi sutradaranya. Saya mengagumi karya Snyder sebelumnya, 300 dan Watchmen. Mengingat dua film itu punya rating yang cuma bisa ditonton orang dewasa, saya jadi penasaran, kayak apa yaa kalo Snyder bikin animasi untuk anak-anak?

Jawabannya… yaaa nggak jauh beda sama 300 dan Watchmen itu. Heheehee… Legend of the Guardian bercerita tentang Soren, burung hantu muda yang percaya akan adanya pasukan burung hantu pemberani yang disebut Guardians of Ga’ Hoole. Berbeda dengan Soren, kakaknya, Kludd, justru menganggap legenda Ga Hoole hanya sekedar mitos yang dikisahkan ayah mereka sebagai pengantar tidur. Tapi Soren berniat membuktikan kebenaran akan keyakinannya setelah dia dan Kludd diculik oleh The Pure Ones, pasukan burung hantu jahat yang ingin berkuasa di atas burung hantu lainnya. Soren bertekad untuk terbang mencari pohon yang diyakini sebagai markas Ga Hoole untuk meminta pertolongan. Selintas, sinopsis film ini sangat khas sebuah dongeng anak-anak. The battle between the good VS the evil. Tapi yang saya rasakan yaa.. itu tadi, Snyder belum bisa melepaskan ciri khasnya sebagai pembuat 300 dan Watchmen yang penuh kekerasan dan darah. Legend of Ga Hoole kelewat “gelap” untuk ditonton anak-anak. Rasanya seperti nonton Lord of the Ring versi animasi… bener deh. Mau nggak mau, saya membandingkan film ini dengan film fantasi anak-anak lainnya kayak The Chronicle of Narnia dan Harry Potter. Walau intinya sama-sama the good VS the evil, tapi kedua film itu masih layak ditonton anak-anak karena pertempurannya masih bisa dibilang soft dan digambarkan secara implisit. Aaah, nanti anda tahu sendiri lah kalau sudah nonton film ini. (aaaah, review macam apa ini?!?!)

Plot film ini juga saya rasakan terlalu terburu-buru. Entah karena memang dari sononya begitu atau karena kerjaan LSF kita yang doyan membabat adegan-adegan penting sebuah film. Soalnya ada beberapa line di trailer yang tidak saya lihat di filmnya. Tapi apapun itu, saya maklumi karena film ini adalah ringkasan dari 3 buku pertama (dari total 14 buku). Dan merangkum isi 3 buku ke dalam film berdurasi kurang dari 2 jam jelas bukan hal mudah. Tapi di balik segala kekurangannya, saya tetap sangat merekomendasikan film ini. Jangan nonton di DVD, apalagi yang pinjeman atau bajakan. Tonton di bioskop dan ingat… harus yang 3D! Tuh, ampe saya bold lho. Selama screening itu, kepala saya nggak beralih sedikitpun dari layar. Bukan karena semalem salah bantal. Lewat efek 3D, burung hantu yang lucu-lucu ngegemesin itu bener-bener hidup di layar lebar. Nggak hanya melihat kedipan mata dan kepakan sayapnya, anda juga seolah bisa merasakan tetes hujan atau angin yang menyisir bulu mereka saat mereka terbang. What an amazing piece of 3D works! (Yeee, film animasi lain juga begitu kaliiii…)

Jadi, apakah Guardian of Ga’ Hoole benar-benar ada? Atau Soren harus memerangi The Pure Ones sendirian? Yang pasti, saya nggak ikut-ikutan. Anda nonton aja sendiri yah? :D


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post